cerita inspirasi 2

nama  : elly widyas ningsih

nrp      : G34100114

laskar : 14

Tidak hanya dikenal sebagai pemain film dan presenter di televisi, Olga Lydia juga semakin mengepakkan sayapnya didunia usaha. Outlet ‘NaRaYa’ yang baru saja dibuka awal Agustus lalu menguatkan jejak usaha Olga.
Olga ingin dikenal sebagai bussiness woman, seperti Ibu Fahmi Idris atau Dewi Motik, di luar rutinitas pekerjaannya sebagai selebritis.
‘NaRaYa’ merupakan outlet franchise dari Thailand yang menjual segala pernak-pernik kebutuhan perempuan. Mulai dari alas kaki, gantungan kunci, dompet, serbet, tempat tissue, hingga pigura. Ada pula tempat make up, tas, kotak sepatu, pigura, serbet, sampai kantong kresek, dan gantungan baju. Semua barang asli Thailand itu dibuat dari bahan kain.
Bersama ‘NaRaYa’ yang dikelola bersama tiga rekan bisnisnya, Olga seolah semakin mantap mengembangkan usaha. Olga menceritakan, awalnya karena ada teman yang jalan-jalan ke Thailand dan melihat produk ‘NaRaYa’ banyak sekali peminatnya, terutama turis dari luar negeri gajah putih itu.
“Dia bolak-balik ke tempat itu karena melihat harganya terjangkau dan ingat keluarga di Jakarta. Jadinya, dia membeli produk dari ‘NaRaYa’,” cerita Olga saat ditemui di Outlet ‘NaRaYa’ di Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat, Kamis (19/8). Saat itu Olga ditemani rekan bisnisnya, Melly Hartono.
Berawal dari rasa penasarannya pada produk ‘NaRaYa’ itu Olga dan Melly, juga dua rekan bisnisnya yang lain, mencari cara untuk membawanya ke Jakarta. Tak mudah bagi Olga bisa memakai nama ‘NaRaYa’ karena ada pengusaha franchise ternama di Jakarta yang juga punya keinginan sama, membawa produk ‘NaRaYa’ ke Indonesia.
“Kami harus bersaing dengan juara franchise Indonesia. Kami beruntung karena mendapat usaha ini lebih dulu daripada si juara itu,” kata Olga tertawa. Soal tempat, sudah ada rekan bisnisnya yang menawari di Mal Taman Anggrek itu. Olga yakin bisa mengembangkan salah satu unit usahanya itu di Jakarta.
“Harganya terjangkau dan baru pertama kali ini dibuka di Indonesia. Kalau persediaannya habis kami akan pesan ke Thailand untuk memilih dan memesan produknya sesuai dengan selera masyarakat di Indonesia,” ujar Olga semangat. Dan benar, harga barang yang sebagian besar untuk perempuan itu memang terjangkau.

Bagi Olga, Outlet ‘NaRaYa’ menjadi usaha bisnisnya yang kelima. Sebelumnya, Olga membuka usaha LaForca –sebuah tempat permainan biliar di tahun 2004– di Setiabudi Building, Setiabudi, Jakarta Selatan. Lalu setahun kemudian membuka PokeSushi, sebuah restoran masakan Jepang, di Crown Plaza.
Setelah empat tahun diam dan hanya fokus pada dua usahanya itu, Olga kembali lagi dengan membuka usaha bisnis lain. Bisnis Olga diluar kesibukannya sebagai publik figur semakin mantap setelah dirinya membuat Elbow Room di daerah Kemang, dan vin+ (wine plus) di Arcadia, Plaza Senayan. Keduanya dibuka tahun 2009.
“Jadi ‘NaRaYa’ ini menjadi tempat usaha yang kelima, dan baru sekarang dibuka setelah kosong empat tahun karena belum ada partner kerja yang pas,” cerita Olga. Sampai sekarang, keempat tempat usahanya itu masih bertahan dan dijalankan secara profesional.
“Saya aja kalau makan di restoran saya sama seperti pengunjung lainnya. Bayarnya ya tetap sesuai harga,” kata Olga melanjutkan, “Kalau dapat untung kan larinya ke saya juga.”
Sepertinya, tak cukup lima usaha yang akan dijalankan Olga setelah dirinya punya obsesi ingin seperti Ibu Fahmi Idris atau Dewi Motik.
“Nggak ada salahnya juga kan jadi bussiness woman. Banyak usaha, banyak lapangan pekerjaan,” kata Olga yang selama ini harus membagi waktu dengan partner bisnis. Olga mengaku, tidak bisa memegang semua unit usahanya itu karena masih ada rutinitas lain sebagai presenter acara televisi. “Partner saya banyak banget, karena saya juga harus membagi waktu,” ujar Olga.
Menurut Olga, saat dirinya memulai usahanya yang pertama, rasanya begitu sulit. Setelah dipertimbangkan, Olga akhirnya berani membuka usahanya. “Risikonya kecil atau besar ya ditanggung. Namanya juga investasi,” tutur Olga. Setiap akan membuka usaha, Olga harus melihat model bisnis yang akan dijalankan, partner bisnis, hingga lingkungan usahanya.
“Harus dilihat bisnisnya dulu. Peluangnya seperti apa, persaingannya bagaimana, bahayanya gimana. Apapun risikonya harus ditanggung. Yang penting harus tekun,” kata Olga. Modal memang penting, tapi Olga meyarankan jangan hanya fokus pada modal gede saat akan memulai usaha.
“Yang modalnya kecil saja, usahanya bisa tambah gede kok. Tinggal niat dan keberaniannya untuk memulai dan pasti membuahkan hasil,” pesan Olga yang selalu berpartner setiap menjalankan usahanya itu. Pembagian untung dan ruginya juga harus jelas sejak usahanya itu belum dijalankan.
Kalau untung, hasilnya akan dipakai Olga untuk membuka usaha lainnya. “Duitnya diputar terus. Untung dari usaha sebelumnya, saya putar lagi untuk membuka usaha yang lainnya. Begitu seterusnya, sampai saat ini,” kata Olga.

Comments

cerita inspirasi

nama  : elly widyas ningsih

nrp      : G34100114

laskar : 14

Dalam kurun waktu 25 tahun pertama pembangunan Indonesia di bawah rezim Orde Baru memperlihatkan adanya pergeseran peranan beberapa sektor pembangunan, yang menjadi tumpuan penggerak utama ekonomi nasional. Pada awal pembangunan struktur ekonomi bertumpu pada sektor pertanian, kini meskipun kolaps  titik utama pembanguan bertumpu pada sektor industri dan jasa, karena dianggap mempunyai nilai tambah untuk memacuh pertumbuhan ekonomi. Pergeseran peranan tersebut, antara lain, ditandai dengan semakin merosotnya peranan sektor pertanian dan meningkatnya peranan sektor industri dan jasa terhadap pendapatan nasional kotor (PDB). Misalnya, pada Pelita I Sumbangsih sektor pertanian terhadap PDB 43,5% merosot menjadi 19% pada Pelita V. Sedangkan sektor industri dan jasa, masing-masing 8,9% dan 15% pada Pelita I meningkat menjadi 21,4% dan 45,5% pada Pelita V.

Sebagai negara agraris, sebagian besar rakyat (apalagi petani) sangat tergantung dengan tanah. Oleh karena itu, dalam rangka perbaikan ekonomi pertanian (pedesan) langkah pertama yang harus dilakukan adalah pembenahan politik pertanahan; yang mesti dilakukan adalah reforma agraria, pengaturan kembali hak penguasaan tanah agar tidak terjadi kesenjangan dalam kepemilikan dan penguasaan atas tanah; agar petani-petani desa memiliki tanah yang cukup untuk pengembangan ekonomisnya, menjajakan eksistensi dirinya, dan di sana pula mereka diharapkan menemukan jati dirinya secara utuh. Omong kosong berbicara peningkatan kesejahteraan keluarga petani, tetapi tidak menyentuh persoalan agraria.

Aksi-aksi pendudukan tanah terlantar milik penguasa dan penguasa oleh petani sekarang ini dengan demikian mesti dilegalkan, dengan upaya sertifikasi tanah secara massal. Karena terbukti, di tengah-tengah krisis berkepanjangan sekarang ini, hanya pada sektor pertanian kita berpaling, hanya sektor pertanian yang banyak menolong rakyat bangsa ini, hanya pertanian yang bisa menampung banyak tenaga kerja — terutama yang dipecat dari pabrik-pabrik industri yang bangkrut, pabrik yang kita bangga-banggakan selama ini, program padat karya yang kini digalakan banyak bertumpu pada sektor pertanian ini.

Setelah pengaturan kembali masalah tanah dilakukan, langkah selanjutnya adalah membuka peluang dan mendorong rakyat (petani) untuk bertani produk-produk unggulan seperti kedelai, ketan, dsb, baik yang dilakukan secara individual maupun secara kolektif.

Modal tersebut dipergunakan untuk memodali dan mendorong rakyat, petani, untuk bertani ketan dan kedelai, misalnya. Berapa juta penduduk negeri ini yang (akan) terserap tenaga kerjanya bila dibandingkan dengan industri pesawat terbang, yang hanya bisa menampung tenaga kerja ratusan atau ribuan saja, daripada membangun industri padat modal dengan komponen impor yang sangat tinggi, dibangun di atas fondasi yang rapuh, besar hanya karena fasilitas dan kemudahan (KKN) tetapi rentan terhadap gejolak, kenapa kita tidak membangun industri pertanian yang betul-betul merakyat, berbasiskan pada komunitas. Kita dorong rakyat untuk beternak sapi misalnya, agar ibu-ibu tidak menjerit karena harga susu melangit dan tidak terbeli. Dan masih banyak yang lainnya.

Oleh karena itu agenda penting pembangunan kita ke depan adalah penataan kembali ekonomi pertanian dan pedesaan seperti dipaparkan di atas, yang sempat kita anak tirikan. Apa salahnya jika kita kembali ke desa-desa, membangun kembali basis pertanian (rakyat) sebagai sistem perekonomian nasional yang kokoh, kuat, dan tahan banting dari berbagai hantaman gejolak.

Comments